• Minggu, 27 November 2022

Salman Rushdie Bisa Jadi Orang Kelahiran India Ke-2 yang Memenangkan Hadiah Nobel untuk Sastra

- Rabu, 5 Oktober 2022 | 14:55 WIB
Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses yang kontroversial (Instagram @les_filles_a_la_page)
Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses yang kontroversial (Instagram @les_filles_a_la_page)

Gunem.id - Salman Rushdie, penulis yang beberapa waktu lalu ditikam ketika memberikan kuliah di Amerika Serikat, diramalkan banyak pihak menjadi orang kelahiran India kedua yang bakal menerima hadiah Nobel untuk sastra.

Sebelumnya, di tahun 1913, Rabindranath Tagore menerima penghargaan bergengsi dunia itu untuk karyanya yang terbit di London pada tahun 1912, “Gitanjali”.

Salman Rushdie adalah penulis prolifik India yang menghasilkan karya-karya yang fenomenal, termasuk “The Satanic Verses” yang menuai banyak kecaman. Ia ditikam di bagian leher dan dada ketika hendak menyampaikan kuliah di Chautauqua Institution di negara bagian New York pada 12 Agustus 2022.

Baca Juga: Setelah Menderita Linu Panggul Mike Tyson Mengabarkan Kebugarannya melalui Unggahan Video

Pemenang penghargaan Nobel untuk Sastra pada tahun 2022 ini akan diumumkan besok, Kamis, 6 September 2022. Penghargaan ini diberikan kepada “orang yang menghasilkan karya sastra yang paling menonjol ke arah yang ideal”.

Penghargaan ini diputuskan oleh Akademi Swedia, yang terdiri dari sekelompok orang berjumlah 18 yang terdiri dari penulis Swedia, ahli bahasa, sarjana sastra, sejarawan dan ahli hukum terkemuka.

Ini merupakan penghargaan sastra paling bergengsi di dunia di mana pemenangnya berhak atas hadiah uang sebesar 1 juta poundsterling atau sekitar Rp17 M.

Baca Juga: Kejuaraan Dunia Bola Voli Putri FIVB 2022 :Jadwal Pertandingan Hari Ini Rabu,5 Oktober 2022 ada Link Streaming

Jika Salman Rushdie menang penghargaan Nobel tahun ini, orang Inggris-Amerika berusia 75 tahun itu akan menjadi penulis kelahiran India kedua penerima penghargaan itu setelah Tagore.

Serangan terhadap Salman Rushdie terjadi 33 tahun setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin tertinggi Iran, mengeluarkan fatwa, atau perintah agama, yang menyerukan umat Islam untuk membunuh penulisnya beberapa bulan setelah The Satanic Verses diterbitkan. Meskipun Iran telah menjauhkan diri dari fatwa tersebut, namun tidak pernah dicabut secara resmi.

Halaman:

Editor: Bonari

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X