• Minggu, 26 Juni 2022

Ada Apa dengan Babu?

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 21:37 WIB
Ilustrasi pembantu atau asisten rumah tangga. (Pixabay/Simon Kadula)
Ilustrasi pembantu atau asisten rumah tangga. (Pixabay/Simon Kadula)

Gunem.idOleh: Eni Kusuma

Lain kepala lain pikirannya. Sama-sama bekerja di sektor domestik, sebagai pekerja rumah tangga, sebagai nanny, ada yang santai saja menanggapi ketika disapa dengan, ‘babu.’ Ada pula yang panas telinga.

Tulisan ini saya buat untuk mengukuhkan gelar yang melekat pada saya atau mengiringi rekan yang lain. Ini hanya bagi yang "merasa" saja. Yang saya maksud "merasa" di sini adalah yang merasa nyaman dan enjoy saja disebut: TKW, TKI, PRT, rewang, buruh, babu, atau barangkali ada sebutan yang lebih "angker" lagi.

Karena memang begitulah kenyataannya. Istilah-istilah itu memang mengiringi profesi pembantu rumah tangga. Jika (maaf) tidak nyaman disebut begitu, menurut saya, ya bekejalah di sektor lain.

Baca Juga: Taat Beribadah dan Ramah, Berikut Fakta Pemeran Uttaran yang Beragama Islam

Terus terang saya salut dengan pribadi (seorang pembantu rumah tangga) yang dengan berani menyebut dirinya "babu" sebagai imej dari profesinya pada khalayak secara profesional, bukan yang menggembor-gemborkan di pasar-pasar.

Menurut saya, jika istilah "babu" sebagai kata sapaan yang selalu menyapa rekan-rekan kita sesama pembantu di setiap kali mereka bertemu, kedengarannya memang seperti "merendahkan diri sendiri". Terus terang kata ini tidak mengandung "energi" atau "semangat".

Coba bayangkan, (meskipun saya tidak keberatan) disapa dengan "Hey, Babu, lagi ke pasar yah?" atau seorang yang bukan babu menyapa kita dengan sebutan "babu" yang menurut si babu sendiri "merendahkannya" .

Namun, jika kita openmind, apa pun sebutan tentang profesi kita tidak akan berpengaruh pada kepribadian kita. Memang inilah kenyataannya, so what? Sekali lagi jika kita "terbuka" tentu kita akan dengan senang hati menerima sebutan apa pun tanpa melihat maksud dari si penyebut tadi.

Baca Juga: Dikeluarkan Sekali dalam 7 Tahun, Dandang Pusaka Kiai Dudo Milik Keraton Kasunanan Surakata

Halaman:

Editor: Bonari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Hari Ibu atau Hari Bapak, sih?

Rabu, 22 Desember 2021 | 13:14 WIB

Cara Belajar Menulis Cerpen tanpa Teori

Jumat, 29 Oktober 2021 | 12:44 WIB

Plastik Menggilas Tradisi Masonan di Kampung Saya

Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:19 WIB

TKW di Antara Rok Mini dan Harga Diri

Jumat, 15 Oktober 2021 | 21:56 WIB

Para Korban Konsep Cantik itu Malahan Merasa Aduhai

Senin, 11 Oktober 2021 | 08:55 WIB

Ada Apa dengan Babu?

Jumat, 8 Oktober 2021 | 21:37 WIB
X