• Minggu, 26 Juni 2022

Cara Belajar Menulis Cerpen tanpa Teori

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 12:44 WIB
Ilustrasi menulis (pixabay/StockSnap)
Ilustrasi menulis (pixabay/StockSnap)

Gunem.id - Apakah Anda ingin menjadi penulis fiksi? Jadi penulis cerpen atau cerpenis? Atau malahan sudah memulainya? Ayo, teruskan. Dan, barangkali tulisan pendek ini ada manfaatnyan buat mendukung keinginan Anda itu.

Seorang suami menganjurkan, meminta, berharap, atu menyuruh (?) istrinya untuk pergi mencari kerja ke luar negri. Tampaknya problem perekonomian keluargalah yang mendorongnya.

Suami ini sebenarnya mengalami perasaan yang kompleks: tidak tega membiarkan istrinya banting tulang di negri orang jika menuruti anjurannya, rasa bersalah karena tak mampu memenuhi tangung jawabnya sebagai seorang suami yang mesti menafkahi anak-istri, dan kecemasan membayangkan masa depan ketika di kampung, dan bahkan di negri sendiri, cari kerja pun susah.

Baca Juga: Hasil Liga Spanyol Levante Vs Atletico Madrid: Dua Penalty Enis Badhi Gagalkan Kemenangan Los Rojiblancos

Ketika datang si adik yang mengatakan bahwa meminta atau menyuruh istri pergi mencari kerja ke luar negri adalah tidak bijaksana, berbaliklah arah pikiran suami itu. Ia, bahkan lalu meminta maaf kepada istrinya.

Merasa terbebas dari rasa bersalah, malam itu, suami itu, lalu tertidur pulas. Bahkan, usai salat subuh, ia kembali terlelap. Sebelum matahari terbit, si istri pergi meninggalkannya, juga meninggalkan anaknya, pergi entah ke mana. Sebab surat yang ia tinggalkan hanya seperti ini:

’’Kagem suamiku Kang Narto
Kang, saya minta maaf jika harus mneinggalkan kakang dan anak kita. Mohon dijaga baik-baik buah hati kita, saya pergi, tidak perlu dicari, yakinlah suatu hari saya akan kembali untuk Kakang dan anak kita, Salam.’’

’Kutipan’ surat itu sekaligus mengakhiri cerita pendek berjudul Surat untuk Kang Narto [SUKN] yang ditulis oleh seorang perempuan pekerja rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong –sekarang sudah Kembali ke tanah air.

Baca Juga: Dinilai Kurang Serasi, Pemotretan IU dan KAI EXO Tuai Perdebatan

Cerita pendek itu seutuhnya benar-benar pendek, karena hanya 2.200 karakter. Bandingkan dengan cerita pendek yang biasa dimuat Jawa Pos, misalnya, yang berkisar antara 4.000 – 7.000 karakter.

Halaman:

Editor: Ibrahim Aghil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Hari Ibu atau Hari Bapak, sih?

Rabu, 22 Desember 2021 | 13:14 WIB

Cara Belajar Menulis Cerpen tanpa Teori

Jumat, 29 Oktober 2021 | 12:44 WIB

Plastik Menggilas Tradisi Masonan di Kampung Saya

Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:19 WIB

TKW di Antara Rok Mini dan Harga Diri

Jumat, 15 Oktober 2021 | 21:56 WIB

Para Korban Konsep Cantik itu Malahan Merasa Aduhai

Senin, 11 Oktober 2021 | 08:55 WIB

Ada Apa dengan Babu?

Jumat, 8 Oktober 2021 | 21:37 WIB
X