• Senin, 28 November 2022

Geger Perdukunan di Indonesia 3: Pertunjukan Kebodohan Masih lebih Laku sebagai Hiburan maupun Panutan

- Rabu, 7 September 2022 | 13:52 WIB
Pesulap Merah dengan Gus Samsudin (YouTube/Marcel Radhival)
Pesulap Merah dengan Gus Samsudin (YouTube/Marcel Radhival)

Oleh: Bonari Nabonenar

Gunem.id – Geger Perdukunan di Indonesia yang dipicu oleh Marcel Radhival alias Pesulap Merah dan mencapai puncaknya lewat perseteruannya dengan Gus Samsudin, pemilik Padepokan Nur Dzat Sejati di Blitar, Jawa Timur, adalah momentum bagus, sebutlah momentum emas yang bisa jadi tak akan terulang dalam 100 tahun ke depan.

Apakah Anda menginginkan Geger Perdukunan di Indonesia yang sedang panas-panasnya ini segera reda, tenggelam oleh kasus-kasus atau trending topik baru, atau berharap para pihak bisa segera bertemu muka dalam sebuah forum, misalnya: Kongres Perdukunan Indonesia, dan kemudian menemukan titik kesepahaman?

Ataukah Anda ingin melihat Geger Perdukunan ini berakhir di meja hijau dan salah satu pihak harus diganjar kurungan penjara, atau direhabilitasi?

Ataukah Anda justru memandang bahwa sebaiknya momentum Geger Perdukunan di Indonesia ini dipelihara untuk tetap bertahan di ‘puncak tangga’?

Walau ada pula tudingan bahwa perseteruan Pesulap Merah dengan Gus Samsudin berpotensi memecah belah umat –yang segera dikomentari seorang Tiktoker, “Memang memecah belah umat menjadi dua kubu, kubu cerdas dan kubu goblok,” –situasi ini tidak hanya mendatangkan keuntungan di kedua belah pihak.

Tak sedikit kubu ketiga, keempat, dan seterusnya yang juga memanfaatkan kisruh di dunia perdukunan ini sebagai peluang untuk berjualan konten.

Lihatlah kanal YouTube, yang biasanya tampak setia mengunggah konten yang tak berkaitan dengan topik sulap maupun perdukunan pun tiba-tiba ikut nimbrung membahas perseteruan Pesulap Merah dengan Gus Samsudin.

Nah, jika pun sampeyan tidak setuju dengan anggapan atau penilaian bahwa momentum Geger Perdukunan di Indonesia ini adalah momentum yang bagus, sangat bagus, momentum emas, coba kita ubah redaksionalnya, menjadi: “berpotensi menjadi momentum emas.”

Halaman:

Editor: Bonari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berselera Jantan

Jumat, 23 September 2022 | 10:06 WIB

Ngesti Pandowo, Nostalgia, dan Ketokohan

Jumat, 16 September 2022 | 12:46 WIB

Iklan Berbahasa Jawa

Selasa, 30 Agustus 2022 | 07:14 WIB

Teringat Almanak

Minggu, 21 Agustus 2022 | 09:04 WIB

Poerbatjaraka, Kepintaran dan Pengabdian

Jumat, 12 Agustus 2022 | 05:00 WIB

Membaca dan Berguna

Kamis, 4 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Membaca Buku Primbon yang Kesepian di Lemari

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:00 WIB

Ini Hari Ibu atau Hari Bapak, sih?

Rabu, 22 Desember 2021 | 13:14 WIB
X