• Jumat, 3 Februari 2023

Soekarno Menutup Telinga Saat Mendengarkan Musik Barat, Apa Salahnya?

- Kamis, 16 September 2021 | 07:44 WIB
Pose foto Soekarno sedang menutup telinga saat mendengarkan musik gitar yang dibawakan oleh dua orang bule sebagai kampanye anti musik barat (Istimewa)
Pose foto Soekarno sedang menutup telinga saat mendengarkan musik gitar yang dibawakan oleh dua orang bule sebagai kampanye anti musik barat (Istimewa)



Gunem.id - Pada masa kepemimpinannya, presiden Soekarno pernah mengkampanyekan anti musik barat. Dalam kampanyenya Ir. Soekarno berpose foto menutup telinga saat mendengarkan musik barat yang disimbolkan dengan dua orang bule sedang bermain gitar di belakangnya.

Pria yang semasa kecilnya bernama Koesno Sosrodiharjo tersebut memang terkenal anti barat dengan berbagai kebijakannya yang anti-kolonialisme dan imperialisme. Salah satu hal yang membuatnya waspada adalah pengaruh budaya.

Dikutip dari artikel Merdeka.com yang berjudul “Paduka Mulia dan Anti Barat yang Dipertanyakan” sebagaimana pernah dilansir situs biography.com (2002) Soekarno beranggapan bahwa budaya asing itu mudah diterima tanpa kekerasan sehingga bisa digunakan untuk menyerang suatu negara. Itulah yang membuatnya waspada dan memerintahkan rakyat menjauhi budaya barat.

Baca Juga: Masalah-Masalah Pertanian di Desa Saya Bagian Terakhir : Ke Mana Saja Dinas Pertanian?

Musik Sebagai Alat Revolusi

Diakui atau tidak, musik memberikan pengaruh pada kejiwaan seseorang. Para bintang musik seringkali menjadi panutan para remaja mulai dari cara penampilan, gaya hidup, dan bahkan pemikirannya. Musik barat juga dianggap dapat melemahkan mental para remaja.
Soekarno mengktitik tajam lagu yang ‘klemak-klemik’ sebagaimana disebutkan dalam Surat Kabar Harian edisi Minggu 8 November 1964. Ia berpendapat bahwa lagu yang semestinya adalah lagu yang menggambarkan ‘fighting nation’ bukan lagu ‘ngak ngik ngok’.

Lagu ‘ngak ngik ngok’ yang dimaksud Soekarno adalah lagu rock n roll ala The Beatles. Sebutan ‘ngak ngk ngok’ merupakan ekspresi ketidaksukaan Bung Karno terhadap musik barat tersebut sebagaimana yang disampaikan Pete Kalischer dan Bernard Kalb, Jurnalis CBS.

Spirit liberalisme ala The Beatles dianggap sebagai ancaman bagi budaya gotong royong masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pada tangal 22 September 1964 Mayor Jenderal Achmadi, Adam Malik, dan Oei Tjoe Tat mengadakan sidang presidium yang memutuskan untuk menindak tegas warga yang masih mendengarkan dan memainkan musik barat.

Pelarangan Musik Barat di Indonesia

Sebagai pelaksanaan kebijakan anti musik barat, kepolisian memerintahkan pedagang piringan hitam untuk menyerahkan piringan musik-musik barat sampai 22 Juli 1965. Dengan dukungan kaum muda yang berafiliasi dengan Lekra dan Pemuda Rakyat, polisi merazia ratusan piringan hitam, alat perekam dan kaset The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadows.

Untuk menghilangkan pengaruh buruk budaya barat yang masuk melalui musik, pemerintah saat itu tidak hanya memberantas piringan hitam tetapi juga memenjarakan musisi yang dianggap meniru budaya barat dan tidak menyediakan pilihan lagu-lagu barat di daftar pilihan pendengar.

Musisi dalam negeri yang membawakan lagu yang bernuansa kebarat-baratan pun juga kena imbasnya. Kelompok musik Koes Bros, sebelum berganti nama menjadi Koes Plus, sempat ditangkap dan lagunya dilarang beredar karena dianggap musiknya berkiblat pada The Beatles. Koes Bersaudara ditahan pada 29 Juni hingga 29 September 1965.

Halaman:

Editor: Ibrahim Aghil

Sumber: KKB dan KKSB

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X