• Senin, 28 November 2022

Gowok: Memperjakai Banyak Laki-laki karena Tuntutan Profesi

- Rabu, 29 September 2021 | 22:09 WIB
Ilustrasi pertunjukan perempuan dalam pesta pernikahan (pixabay/thenpx1)
Ilustrasi pertunjukan perempuan dalam pesta pernikahan (pixabay/thenpx1)

Gunem.id – Banyak orang beranggapan bahwa bercinta, atau lebih jelasnya: bersenggama, adalah ketrampilan yang akan dimiliki semua orang secara instingtif (tanpa belajar) jika sudah tiba waktunya (dewasa). Tetapi, jangan lupa, dulu di Jawa banyak calon pengantin laki-laki menggunakan jasa seorang gowok untuk tidak mengecewakan istrinya setelah nanti manikah.

Dalam ranah kebudayaan Jawa, seorang laki-laki baru bisa dikatakan dewasa apabila telah cukup umur dan siap untuk menikah. Di dalam keyakinan masyarakat Jawa, menikah adalah salah satu upacara terpenting dalam kehidupan seorang laki-laki. Pada tahapan ini lelaki Jawa akan memiliki tambahan ‘beban’ yang harus dipikulnya sampai kelak ia mati.

Keberadaan seorang istri yang ditafsirkan sebagai garwa atau sigaraning nyawa (belahan jiwa) sangatlah penting untuk dihormati sekaligus dibahagiakan. Sebab, istri dalam masyarakat Jawa apabila diperlakukan dengan baik akan membuka jalan untuk mencapai kebahagiaan. Dan sebaliknya apabila salah dalam memperlakukan akan membuka jalan ke arah kehancuran.

Baca Juga: Di Petirtaan Watu Gedhe Ken Arok Melihat Betis Ken Dedes Bercahaya

Maka, seorang lelaki dewasa yang hendak berumah tangga dipandang penting untuk mendapat bimbingan mengenai memperlakukan seorang istri dengan baik. Perlakuan ini tidak hanya berkutat urusan jasmani, namun juga dalam urusan kebutuhan batin (rohani). Kepuasan batin juga harus diberikan kepada istri agar sang istri dapat betah membangun hidup berumah tangga dengan sang suami.

Kebanyakan lelaki Jawa di masa lalu terlalu awam dalam hal urusan rohani. Hal ini kemudian mendorong adanya sebuah profesi yang dikhususkan bagi perempuan yang telah matang dalam urusan ranjang. Nama profesi ini adalah: gowok.

Gowok adalah seorang perempuan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya yang sudah menginjak dewasa,” (Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk, 1982). Dan banyak lagi ulasan atau catatan, termasuk dalam prosa sepeti karya Ahmad Tohari itu, mengenai per-gowok-an.

Perempuan yang memilih profesi gowok memiliki tugas mengajarkan cara hidup berumah tangga kepada lelaki yang akan menikah. Yang diajarkan oleh gowok ini tidak hanya bagaimana cara mengajak istri ke pasar, ke kondangan, atau bagaimana cara membahagiakan istri dari segi jasmani. Gowok juga mengajarkan tata cara senggama yang baik. Dengan pelajaran dari gowok ini diharapkan setelah menikah nanti si laki-laki dapat benar-benar membahagiakan istrinya baik lahir maupun batin.

‘Serem’-nya, kegiatan belajar-mengajar di bidang per-gowok-an ini tidak dilangsungkan dengan alat peraga seperti gambar, boneka, apa lagi video tutorial. Si gowok mendayagunakan seluruh jiwa-raga-nya demi suksesnya pembelajaran.

Baca Juga: Resep Kejantanan Para Raja dan Penguasa di Masa Lampau

Halaman:

Editor: Bonari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X