• Senin, 28 November 2022

Pembantaian Kedung Kopi, Dibunuh Sepulang Demo

- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 11:50 WIB
Monumen Perisai Pancasila yang menjadi peringatan peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh PKI terhadap  aktivis non-PKI di Kedung Kopi pada 22 Oktober 1965 (Republika/Andrian Saputra)
Monumen Perisai Pancasila yang menjadi peringatan peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh PKI terhadap aktivis non-PKI di Kedung Kopi pada 22 Oktober 1965 (Republika/Andrian Saputra)

Gunem.id- Ini kisah tentang biadabnya PKI (Partai Komunis Indonesia) di Kota Solo, Jawa Tengah. Persisnya, yang dikenal dengan peristiwa Pembantaian di Kedung Kopi, tanggal 22 Oktober 1965.

Setidaknya, 23 warga solo menjadi korban kekejaman komunis karena mereka melakukan demonstrasi mengecam aksi PKI. Itu membuat mereka dibuang di salah satu sudut aliran sungai Bengawan Solo, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres. Termasuk Usman Amirudin (79) dan beberapa warga yang mengalami peristiwa tersebut menceritakan bagaimana saat puluhan pemuda yang hanya rakyat biasa itu ditangkap, ditembaki, lalu dibuang ke Kedung Kopi.

Lokasi kejadian tragis itu adalah bantaran Sungai Bengawan Solo, saat ini dibangun taman dan prasasti.

Menurut penuturan Usman, saksi hidup peristiwa tersebut,tragedi pembantaian itu berawal saat munculnya kabar dari Dewan Revolusi Jakarta sampai terjadinya peristiwa penculikan beberapa jenderal oleh PKI di 30 September 1965.

Baca Juga: Cara Mengobati Ikan Mas Koki yang Terserang Kutu Jarum

“Setelah mendapat kabar itu, potensi masyarakat non-PKI (nasionalis dan agama) menyatu untuk saling menjaga. Suasana di Solo saat itu, setiap hari seperti perang, mulai 30 September sampai 22 Oktober, dan masing-masing gang ditutup oleh pihak kami,” ungkap Usman di rumahnya, dikutip dari Radaraktual.com, Rabu (26/9).

Saat itu, Wali Kota Solo, Oetomo Ramelan berasal dari PKI begitu juga beberapa prajurit militernya juga anggota PKI.

Usman yang saat itu merupakan anggota Pemuda Muhammadiyah menambahkan, jika ketika itu para pemuda yang tergabung dalam Pemuda Rakyat berkeliling kampung dan meneror para penduduk sipil.

“Sudah, masuk ke rumah masing-masing, ndak usah kumpul-kumpul. Ini urusan intern Angkatan Darat, masuk saja,” ucap Usman menirukan kata-kata teror anggota Pemuda Rakyat.

Halaman:

Editor: Pulung Nowo Wijoyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X